Tauhid Menghapus Semua DOSA

Apa rahasia kehebatan tauhid, sehingga mampu menghapus segala dosa, sebesar apapun ? Seorang Umar bin Khathab Radhiyallahu anhu misalnya, tokoh yang sebelum masuk Islam terkenal paling menentang ajaran Islam dan terkenal dengan kekafirannya serta pernah mengubur putrinya hidup-hidup. Namun dengan masuk Islam, mentauhidkan peribadatan hanya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala saja, maka terhapuslah segala dosa dan kesalahannya yang menggunung. Bahkan menjadi tokoh paling mulia di sisi Allâh sesudah Abu Bakar Radhiyallahu anhu.

Apalagi jika kesalahan seseorang lebih kecil, tentu akan lebih mudah terhapus dengan tauhid. Bahkan jika kesalahan serta kekufurannya lebih besar dari Umar Radhiyallahu anhu sekalipun, tetap semua itu akan hapus dan sirna dengan tauhid.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“…وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيْئَةً لاَيُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لَقِيْتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً” رواه مسلم

Allâh Azza wa Jalla berfirman, “…Dan barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Aku, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan yang sepenuh bumi pula”. [HR. Muslim][1] .

Dalam Sunan Tirmidzi, dari Anas Radhiyallahu anhu , beliau mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allâh Tabaraka wa Ta’ala berfirman :

يَاابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَتُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika engkau datang menghadap kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang kepada-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Ku, maka Aku akan datang kepadanya dengan membawa ampunah sepenuh bumi pula[2].

Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Aal asy-Syaikh (wafat th. 1285 H) menyebutkan bahwa al-Hâfizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang datang dengan membawa tauhid (kepada Allâh), meskipun memiliki kesalahan sepenuh bumi, niscaya Allâh akan menemuinya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula”[3]

Maksudnya, hadits di atas menegaskan bahwa siapa yang bertauhid dengan sempurna, maka bisa mendapat ampunan dari dosa-dosanya meskipun dosa-dosa itu memenuhi bumi. Bukan hanya itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa orang yang sempurna tauhidnya, tidak akan diadzab oleh Allâh di akhirat.

Dalam hadits Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu tentang hak dan kewajiban hamba kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ وَلاَيُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ الْعِباَدِ عَلَى اللهِ : أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً. قُلْتُ: ياَرَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ أُبَشِّر الناَّسَ؟ قَالَ : لاَتُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا. أخرجاه

Hak Allâh yang menjadi kewajiban para hamba ialah agar mereka beribadah kepada Allâh saja dan tidak mempersekutukan sesuatupun (syirik) dengan Allâh. Sedangkan hak hamba yang akan diperoleh dari Allâh ialah bahwa Allâh tidak akan mengadzab siapapun yang tidak mempersekutukan (syirik) sesuatu dengan Allâh.” Aku (mu’adz) berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, tidakkah kabar gembira ini aku sampaikan kepada orang banyak ?’ Beliau menjawab, “Jangan engkau kabarkan kepada mereka, sebab mereka akan bergantung (dengan mengatakan: yang penting tidak syirik-pen) [HR. Bukhari dan Muslim][4]

Hadits ini menunjukkan, orang yang sama sekali tidak berbuat syirik dalam beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , ia tidak akan di adzab.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula :

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ اللهِ وَابْنُ أَمَتِهِ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ الله مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ(وفى رواية: أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ). أخرجاه

Siapa yang berkata: Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allâh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, juga bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allâh dan anak hamba (perempuan) Allâh, ia adalah manusia yang dicipta dengan kalimat-Nya, lalu dimasukkan ke dalam diri Maryam, dan ia adalah ruh yang dicipta oleh Allâh. Juga bersaksi bahwa sorga adalah benar adanya, dan nerakapun benar adanya, maka Allâh pasti akan memasukannya ke dalam sorga, melalui pintu mana saja yang dia kehendaki dari pintu-pintunya yang delapan. (Dalam riwayat lain: maka Allâh pasti akan memasukannya ke dalam sorga, sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya). [HR. Bukhari dan Muslim][5]

Masih banyak nash lain yang menceritakan kehebatan tauhid. Apa Rahasianya?
Di sini perlu dikaji beberapa hal di antaranya:

PENGERTIAN TAUHID
Tauhid ialah meng-Esakan Allâh Azza wa Jalla dengan hanya memberikan peribadatan kepada-Nya saja.[6] Artinya, agar orang beribadah (menyembah) hanya kepada Allâh Azza wa Jalla saja serta tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya (tidak syirik kepada-Nya). Dia beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla dengan mencurahkan kecintaan, pengagungan, harapan dan rasa cemas.[7]

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn rahimahullah menerangkan bahwa kata tauhid merupakan mashdar dari wahhada, yuwahhidu, artinya menjadikan sesuatu menjadi satu-satunya. Dan ini tidak akan terjadi kecuali dengan menggabungkan antara nafi (peniadaan) dan itsbât (penetapan). Meniadakan (peribadatan) dari selain yang di Esakan, serta menetapkan (peribadatan) hanya pada yang di Esakan.[8]

Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tauhid yang di bawa Rasul Allâh sebagai ajarannya tidak lain berisi penetapan bahwa sifat Uluhiyah (berhak disembah) hanyalah milik Allâh Azza wa Jalla saja. Yaitu, ikrar bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allâh Azza wa Jalla , tidak ada yang boleh diibadahi kecuali Dia, tidak diserahkan sikap tawakal kecuali hanya kepada-Nya, tidak ada kecintaan kecuali karena-Nya, tidak dilakukan permusuhan kecuali karena-Nya dan tidak dilakukan amal perbuatan kecuali dalam rangka ridha-Nya. Dan itu semua mencakup penetapan nama-nama serta sifat-sifat-Nya sesuai dengan apa yang telah Dia tetapkannya sendiri bagi diriNya”.[9]

Selanjutnya beliau rahimahullah mengatakan, “Bukanlah tauhid yang dimaksud sekedar Tauhid Rububiyah. Yaitu meyakini bahwa Allâh adalah pencipta alam semesta satu-satunya”.[10]

Itulah hakikat tauhid yang menjadi intisari dakwah serta ajaran setiap Rasul Allâh, yaitu yang berisi dua hal pokok: Pertama, penolakan terhadap setiap sesembahan selain Allâh, dan kedua, penetapan bahwa sesembahan yang benar hanyalah Allâh Azza wa Jalla saja.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada setiap umat untuk menyeru kepada umat masing-masing, “Beribadahlah kalian kepada Allâh saja, dan jauhilah thaghut. [an-Nahl/16:36]

Dan banyak firman Allâh yang senada dengan ayat ini.

TUJUAN DICIPTAKANNYA MANUSIA
Adalah sangat naif dan dangkal jika orang berprasangka bahwa hidup di dunia ini hanyalah untuk tujuan dunia, untuk membangun dunia dengan segala gebyar serta teknologinya, dan untuk melakukan kebaikan-kebaikan duniawi hanya demi kebaikan serta kesejahteraan dunia.

Orang hidup pasti akan mati dan meninggalkan dunia fana ini menuju kehidupan lain. Dan pasti akan ada pertanggung jawaban dalam kehidupan lain itu. Karenanya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, bahwa hidup di dunia ini memiliki tujuan agung yang bukan sekedar hidup, kemudian mati, lalu selesai. Tujuan agung itu adalah peribadatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaKu. [adz-Dzariyât/51:56]

Ibadah yang dimaksud adalah ibadah murni yang tidak terkotori dengan peribadatan kepada selain Allâh Azza wa Jalla . Jika seseorang dalam peribadatannya melakukan perbuatan syirik, mempersekutukan makhluk dengan Allâh, maka pasti Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan murka dan tidak akan ridha.[11]

Di antara dalilnya ialah, firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersukutukan) kepadaNya, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allâh, maka sungguh, dia telah mengadakan dosa yang sangat besar. [an-Nisâ’/4:48]

Juga firman-Nya :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya (dosa) syirik (mempersekutukan Allâh), benar-benar merupakan kezaliman yang sangat besar. [Luqmân/31:13]

Demikian pula firman-Nya :

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allâh, maka janganlah kamu memohon di dalamnya kepada siapapun, di samping kepada Allâh. [al-Jin/72:18]

Jadi, bagaimana mungkin Allâh Azza wa Jalla tidak murka jika Dia Yang Maha Perkasa dan Sempurna disejajarkan dengan makhluk-Nya yang serba lemah dan kurang. Karena itulah, larangan terbesar dalam Islam adalah syirik. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Dan beribadahlah kepada Allâh dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun [An-Nisâ/4:36]

Demikian juga maksud diturunkannya kitab-kitab Allâh Azza wa Jalla serta diutusnya para rasul ialah agar para manusia beribadah hanya kepada Allâh Azza wa Jalla saja.[12] Dalilnya sangat banyak, di antaranya firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. [Al-Anbiya’/21:25]

Nah, agar orang tidak kecewa kelak dalam kehidupan di alam lain, ia harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Penciptanya. Dan Penciptanya ini telah menunjuk utusan kepercayaan-Nya untuk menyampaikan risalah-Nya. Ia adalah Rasûlullâh, utusan-Nya.

BAGAIMANA CARA BERTAUHID?
Adalah jelas bahwa Islam dibangun berdasarkan pondasi tauhid.[13] Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya apa yang diwahyukan kepadaku ialah bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa, maka apakah kamu telah Islam (berserah diri) kepada-Nya”? [al-Anbiyâ’/21:108]

Maka agar keislaman seseorang itu benar dan diterima di sisi Allâh Azza wa Jalla , ia harus bertauhid dengan benar, yaitu hanya memberikan peribadatan kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ikhlas dan tidak memberikan sedikitpun dari macam-macam ibadah kepada selain Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Tidak berdoa dan tidak memohon kepada selain Allâh Subhanahu wa Ta’ala , hal-hal yang hanya menjadi kekuasaan Allâh untuk memberinya; tidak kepada malaikat, tidak kepada Nabi, tidak kepada wali, tidak kepada ‘orang pintar’, tidak kepada pohon, batu, matahari, bulan, kuburan dan lain sebagainya.[14]

Jadi dalam bertauhid, orang harus menolak dan menyingkiri segala yang disembah selain Allâh Azza wa Jalla , dan hanya mengakui, menetapkan serta menjalankan bahwa peribadatan hanya merupakan hak Allâh saja, Pencipta alam semesta.

Bertauhid bukan sekedar mengikrarkan bahwa Allâh adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki, Pengatur serta Pemilik alam semesta. Sebab tauhid semacam ini telah diikrarkan pula oleh kaum musyrikin Arab pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[15] Tetapi bertauhid harus direalisasikan dengan memberikan peribadatan hanya kepada Allâh Azza wa Jalla , permohonan, doa dan kegiatan-kegiatan lain yang semakna, hanya kepada Allâh saja.

Dengan demikian, agar tauhid berfungsi menghapus segala dosa dan menghalangi masuk neraka, maka seseorang harus memurnikan tauhidnya kepada Allâh Azza wa Jalla serta berupaya menyempurnakannya. Ia harus memenuhi syarat-syarat tauhid, baik dengan hati, lidah maupun anggauta badannya. Atau –minimal- dengan hati dan lidahnya pada saat meninggal dunia.[16]

Intinya, menyerahkan peribadatan, kehidupan dan kematian hanya kepada Allâh, meninggalkan segala bentuk kemusyrikan serta segala pintu yang dapat menjerumuskan ke dalam kemusyrikan, sebagaimana telah diterangkan dalam ayat-ayat atau hadits-hadits di atas.

Demikian secara sangat ringkas gambaran tentang kehebatan tauhid yang memiliki daya hapus luar biasa terhadap dosa-dosa. Karena itu mengapa orang tidak tertarik memanfaatkan kesempatan ini ? yaitu dengan bertaubat, kembali bertauhid serta memurnikan tauhidnya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ? Dan mengapa tidak takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?

Perlu disadari oleh setiap insan, bahwa kelak masing-masing akan datang sendiri dan mempertanggung jawabkan dirinya sendiri dihadapan Allâh yang Maha adil keputusan hukumNya.

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allâh sendiri-sendiri pada hari Kiamat. [Maryam/19:95]

Sumber Hukum Islam

Mengetahui mashdar (sumber) dan manhaj (metode) pengambilan akidah ahlusunnah wal jama’ah –atau yang dikenal dengan manhaj talaqqi– merupakan hal yang sangat urgen. Kesalahan dalam hal ini akan melahirkan penyimpangan. Munculnya kelompok kelompok sesat dalam tubuh umat islam tidak lain disebabkan karena kesalahan dalam pengambilan sumber. Baik memang sumbernya yang salah, atau sumbernya benar namun cara pengambilannya yang salah.

Syiah Rafidhah1 menyimpang karena menjadikan imam mereka yang dua belas sebagai sumber ma’shum(bebas dari dosa) seperti halnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sufi pun demikian, menjadikan ilham dan mimpi mimpi laksana wahyu yang harus diikuti. Atau ahlul kalam seperti jahmiyah, mu’tazilah maupun Asy’ariyah2 yang menjadikan akal sebagai sumber pasti yang menghukumi wahyu. Begitu juga dengan kelompok kelompok sempalan lainnya.

Adapun Ahlusunnah, mereka memiliki manhaj talaqqi yang jelas. Yang telah diwarisi secara turun temurun dari generasi ke generasi. Sehingga tidak kita temukan adanya perbedaan akidah di antara mereka.3

Dalam manhaj Ahlusunnah, sumber ilmu akidah berbeda dengan sumber ilmu fiqih. Ilmu akidah bersifat tauqifi, tidak ada ruang untuk ijtihad. Ilmu akidah juga tidak menggunakan qiyas, mashlahat mursalah, istihsan, istishab dan sebagainya4 sebagaimana ilmu fiqih. Akidah dibangun diatas ketundukan terhadap wahyu, baik berupa al qur’an maupun As Sunnah.5 Yang dengan wahyu ini kemudian kita mengetahui nilai akal dan fitrah manusia sebagai alat untuk berijtihad memahami nash-nash yang ada dan bagaimana mengamalkannya. Bukan kemudian menolak nash dengan alasan berbenturan dengan akal. Karena keduanya merupakan pemberian dari Allah ta’ala. Maka tidak mungkin ada pertentangan antara keduanya.

Al Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ sesuai pemahaman Salafus Sholih

Al Qur’an dan Sunnah serta ijma para ulama merupakan sumber asas dalam pengambilan akidah6. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. An Nisa : 59).

Al Qur’an merupakan sumber utama. Didalamnya terdapat petunjuk bagi orang beriman. Siapa yang berpegang teguh kepadanya, dia tidak akan tersesat dan celaka. Sebagaimana Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Allah ta’ala telah menjamin siapa yang membaca al Qur’an dan mengamalkan isinya tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat”.7

Dan Allah ta’ala telah menjamin akan keotentikannya hingga hari kiamat. Tidak akan terjadi adanya penyelewengan berupa penambahan maupun pengurangan terhadap Al Qur’an, sebagaimana terjadi dengan kitab kitab suci sebelumnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “sesungguhnya kamilah yang menurunkan Ad Dzikro (Al Qur’an) dan kamilah yang akan menjaganya” (Qs. Al Hijr : 9),

Dalam memahami Al Qur’an para ulama memiliki metode tafsir yang dikenal dengan tafsir bil ma’tsur. Para ulama mengatakan, “sebaik baik metode penafsiran adalah tafsir Al Qur’an dengan Al Qur’an, kelau tidak ada maka dengan Sunnah, kalau tidak ada maka dengan perkataan para sahabat yang sahih, dan jika tidak ada (juga) maka dengan kesepakatan para tabi’in”.8

Adapun As Sunnah, maka Allah ta’ala telah menjadikannya sebagai pendamping daripada Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman, “Dan Dia mengajarkan mereka al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (Sunnah)” (Qs. Al Baqoroh : 129). Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya aku diberi Al Qur’an dan yang semisalnya (As Sunnah)9.

Allah mensejajarkan keduanya dikarenakan baik Al Qur’an maupun As Sunnah berasa dari wahyu.10 As Sunnah merupakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yang mana Allah telah menjaga beliau dari kesalahan dalam menyampaikan risalah Nya. Sehingga semua perkataan beliau wajib diterima. Dan tidak ada yang menyandang sifat ini setelah beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Kemudian para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in telah bersungguh sungguh menyampaikan dan menyebarkan As Sunnah yang mereka dapatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada generasi selanjutnya. Begitu juga seterusnya secara turun terumurun dari generasi ke generasi kaum muslimin berusaha menjaga dan menyebarkan As Sunnah. Sehingga sampai pada masa penulisan, As Sunnah menjadi terbukukan dalam kitab-kitab sunnah seperti Sahih Bukhari, Muslim, Sunan An Nasa’i dan sebagainya.

Namun sebagiamana diketahui, tidak semua hadis yang ditulis dalam buku buku sunnah bernilai sohih bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam. Adanya campur tangan para pendusta dalam periwayatan hadis menjadi sebab munculnya hadis hadis lemah (dha’if) bahkan palsu (maudhu‘). Yang karenanya para ulama sangat berhati hati dalam mengambil hadis sebagai sumber, terutama dalam masalah akidah. Merekapun berusaha membedakan antara hadis hadis yang sohih dengan yang dhoif melalui metode takhrij yang mu’tabar di kalangan ulama hadis. Dan Ahlussunnah -dalam kaitannya dengan mashdar talaqqi– hanya menjadikan hadis sohih sebagai sumber akidah, tanpa membedakan antara hadis yang bersifat ahad maupun mutawatir.

Dalam memahami Al Qur’an maupun As Sunnah para ulama memahaminya sebagaimana yang nampak secara zahir11, hal ini dikarenakan ajaran islam yang jelas, yang mudah dipahami bahkan oleh orang awam sekalipun. Tanpa memerlukan takwilan-takwilan makna sebagaimana yang dilakukan oleh ahlul bid’ah seperti jahmiyah, mu’tazilah dan yang lainnya. Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “telah aku tinggalkan kalian diatas sesuatu yang sangat jelas dan terang, yang (saking jelasnya) malamnya seperti siangnya, tidak menyimpang darinya kecuali binasa12

Kemudian dalam memahami Al Qur’an maupun As Sunnah mereka kembalikan kepada pemahaman pendahulu mereka salafussalih, terutama para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.13 Hal ini dikarenakan wahyu turun di tengah tengah mereka dan dengan bahasa mereka. Menjadikan merekalah orang yang paling mengerti tentang makna yang benar dari Al Qur’an dan Sunnah. Selain itu juga mereka semua kredibel (uduul)14. Sehingga kepercayaan penerus estafet ajaran nabi berupa Al Qur’an dan Sunnah diamanatkan kepada mereka.

Catatan kaki

1 Pembahasan tentang masdhar talaqqi Syiah Rofidhoh bisa dibaca di buku Mashodir At Talaqqi Wa Ushulul Istidlal Indal Imamiyah (Dar Tadmuriyah, Cet 1; 1429 H). Merupakan risalah magister Dr Iman Solih Al Ulwani (Jamiah Ummul Quro, Makkah)

2 Pembahasan Masdar talaaqi menurut asyairoh bisa dibaca dalam kitab Manhajul Asyairoh Fil Akidah (Darus Sofwah, Cet 1:1434 H), Dr. Safar Hawali, Hal. 42-47

3 Kecuali memang ada beberapa perbedaan kecil yang bersifat furu’ dalam ilmu akidah, seperti perbedaan antara ibnu Abbas dan Aisyah Radhiyallahu ‘Anhum dalam masalah apakah Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat Allah dalam peristiwa Isro Mi’roj.

4 Qiyas, Mashlahah Mursalah, istishab dll termasuk dalil yang digunakan oleh para ulama ushul untuk menyimpulkan suatu hukum, bisa dipelajari di kitab kitab ushul fiqh.

5 Lihat Muqoddimah wa Qowaid Manhajis Salaf Fil ‘Aqaid, Dr. Nasir Al Aql (Darul Fadhilah, Cet 1; 1436 H) Hal. 74

6 Lihat : Manhajut Talaqqi Wal Istidlal baina Ahlusunnah Wa Ahlul Bid’ah (Majallatul Bayan, Cet 3; 1422 H), Ahmad bin Abdurrahman As Shuwaiyan, Hal. 29

7 Dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok dan disohihkan oleh Ad Dzahabi. Lihat Syarah akidah At Tohawiyah, Ibn Abil Izz. Hal. 126

8 Lihat : Muqoddimah tafsir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Syarah Syaikh Al Utsaimin (Madarul Wathon Lin Nasyr, 1433 H) Hal. 130-132

9 Hr. Ahmad (6/8) Abu Dawud (4604) dan Tirmidzi (2665)

10 Lihat Qs. An Najm : 3

11 Lihat pembahasan tentang hal ini dalam Risalah Tadmuriyah, Ibnu Taimiyah (Darul Minhaj, Riyadh Cet I; 1431 H) Kaedah ke 3, Hal. 69-78

12 HR Ibnu Majah (5) dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Sahihah (2/308)

13 Sebagaimana Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ketika bercerita tentang sifat para sahabat berkata, “mereka adalah umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling tidak berlebih lebihan (takalluf), paling lurus petunjuknya, paling bagus keadaannya, mereka adalah suatu kaum yang Allah telah memilih mereka menjadi sahabat sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam” (Jami’ Bayanul Ilmi (2/947)-dinukil dari Al Madkhol Ila Tsaqofah Islamiyah, Hal. 88).

14 Tentang kredibelitas (‘adalah) sahabat bisa dibaca di kitab ‘Adaalatus Shohaabah Indal Muslimiin, Muhammad Mahmuud Lathiif. (Maktabah Rusyd, Riyadh).

Penulis: Abdullah Hazim

Artikel Muslim.Or.Id